SUKABUMI – Kiprah panjang Drs. H. Ridwan Subagya, S.H.I. dalam dunia pendidikan, keagamaan, dan organisasi menjadi cerminan dedikasi seorang ulama yang konsisten membangun umat dari akar rumput. Lahir pada 12 Maret 1970 di Kampung Karang Gantung, Desa Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Ridwan tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang kuat.
Sejak kecil, ia telah terbiasa dengan nuansa religius. Orang tuanya diketahui pernah mengasuh pesantren di kawasan Warung Kalapa, Lembursitu, sebelum akhirnya menetap di Gunungguruh. Bekal lingkungan tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.
Pendidikan formal dan pesantren dijalaninya secara beriringan. Pada 1984, Ridwan muda menimba ilmu di Pesantren Al-Falah Sukamanis, Kecamatan Cisaat, selama enam tahun.
BACA JUGA: Kiprah Almarhum H. Asep Supriatna, Sang Penggerak PKB Kabupaten Sukabumi
Di bawah bimbingan K.H. Drs. Raden Mahbub Sanusi, dan yang tak kalah pentingnya beliau pernah menimba ilmu di Pesantren An-Nidhom, Panjalu, Selabintana, Sukabumi pada tahun 1989 dan 1994 kalau tidak salah. Kemudian juga saya sempat mengikuti pasaran di guru kita, sesepuh kita di Sukabumi, Pangersa Al-Maghfurulah Abah K.H. Mahmud Mudrikah Hanafi selaku pengasuh Pesantren Siqoyaturrahmah. Dan ia menempuh pendidikan dari tingkat Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah, lulus pada 1990.
Tahun yang sama menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya. Ia diterima di IAIN Ciputat (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Fakultas Syariah, jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum, dan berhasil meraih gelar sarjana pada 1996.
Selama menjadi mahasiswa, Ridwan aktif dalam organisasi, baik intrakurikuler melalui Senat Fakultas maupun ekstrakurikuler di PMII Ciputat.
Sepulang dari Ciputat, Ridwan langsung mengabdikan diri di kampung halaman. Ia membantu orang tua mengasuh santri sekaligus mulai merintis kiprah mandirinya di bidang pendidikan. Pada 1997, ia menikah dan menetap di Pesantren Salafiyah Al-Fathonah, Pasirmalang, Gunungguruh.
BACA JUGA: Ratna Istianah, Perempuan Sukabumi Sandang Gelar Doktor di Makasar Dengan Misi Jaga Suara Rakyat
Dua tahun kemudian, tepatnya 1999, ia mendirikan SMP Islam As-Sa’idiyyah dan menjadi kepala sekolah. Langkah tersebut menjadi awal pengembangan lembaga pendidikan yang terus berkembang. Pada 2011, ia kembali mendirikan SMK, dan kemudian menyusul Sekolah Dasar (SD). Kini, total siswa dari unit pendidikan yang dikelolanya mencapai sekitar 500 orang.
Selain fokus di dunia pendidikan, Ridwan juga aktif dalam dunia organisasi keagamaan dan politik. Ia sempat mengabdi sebagai dosen di STAI Al-Masturiyah atas permintaan gurunya, K.H. Hamdun Ahmad. Di tahun 1998, ia turut menjadi bagian dari deklarasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Sukabumi dan dipercaya sebagai Wakil Ketua DPC.
Kariernya di PKB terus menanjak. Pada Musyawarah Cabang pertama tahun 1999, ia terpilih sebagai Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Sukabumi di usia 28 tahun—menjadikannya salah satu ketua termuda di tingkat nasional. Ia menjabat posisi tersebut selama hampir tiga periode hingga 2014, dan juga sempat menjadi Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jawa Barat.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), Ridwan juga memiliki peran penting. Ia aktif sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Sukabumi dan kini menjabat sebagai Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Barat.
BACA JUGA: Yudi Pratama Si Peci Merah Tegaskan Tak Mundur Perangi Obat Terlarang di Pajampangan
Selain itu, ia juga memimpin sejumlah lembaga, di antaranya sebagai Ketua Yayasan Wakaf H. Ahmad Dasuki Hasbullah dan Ketua Yayasan Al-Fathonah yang menaungi pesantren serta lembaga pendidikan formal.
Komitmennya dalam pengembangan keilmuan dan dakwah moderat juga membawanya ke tingkat internasional. Pada 2019–2020, ia terpilih sebagai salah satu dari lima ulama Jawa Barat yang mengikuti program English for Ulama (EFU) yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam program tersebut, ia berkesempatan melakukan kunjungan dakwah ke Inggris selama hampir satu bulan, membawa misi Islam wasathiyah atau moderat.
Tak hanya di bidang pendidikan dan dakwah, Ridwan juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi pesantren. Pada 2017, ia terlibat dalam workshop nasional bersama ratusan pesantren se-Jawa Barat yang digagas Kantor Staf Presiden (KSP). Dari forum tersebut lahir organisasi Asosiasi Pesantren Penggerak Pangan Nusantara (AP3N), yang ia gagas sekaligus pimpin sebagai Ketua Umum hingga saat ini.
Melalui AP3N, Ridwan mendorong pesantren untuk mandiri secara ekonomi melalui sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Ia meyakini bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga motor penggerak kemandirian umat.
Di tengah berbagai aktivitasnya, Ridwan tetap menempatkan pengasuhan pesantren sebagai prioritas utama. Ia terus membimbing santri, mengembangkan lembaga pendidikan, dan berkhidmat di organisasi keagamaan.
“Khidmah di pesantren dan pendidikan adalah yang utama. Di situlah pengabdian kita untuk umat,” ujarnya.
Dengan perjalanan panjang yang penuh dedikasi, Kiai Ridwan Subagya menjadi salah satu figur penting di Sukabumi yang mampu memadukan peran sebagai ulama, pendidik, organisator, dan penggerak ekonomi umat.

